Selamat Tinggal Kamar 'Seperti Katalog IKEA': 5 Tren Interior yang Bikin Rumahmu Terasa Hidup di Juni 2026
Uncategorized

Selamat Tinggal Kamar ‘Seperti Katalog IKEA’: 5 Tren Interior yang Bikin Rumahmu Terasa Hidup di Juni 2026

Pernah nggak lo liat kamar lo terus ngerasa… hambar?

Semua serasi. Sofa warna netral. Bantal sesuai. Rak buku rapi kayak display toko. Tapi ada yang kurang. Hidupnya kurang.

Gue dulu juga gitu. Dinding putih, furnitur minimalis, semua matching. Setiap tamu datang bilang “wah rapi banget”. Tapi gue sendiri nggak betah. Rumah rasanya kayak hotel—bersih, rapi, tapi nggak ada cerita.

Kabar baiknya, tren interior 2026 bergerak ke arah yang berlawanan . Minimalis steril mulai ditinggalkan. Lived-in aesthetic—rumah yang keliatan dihuni, bukan dipajang—jadi raja.

Yang lebih seru: lo nggak perlu beli furnitur baru buat ngikutin tren ini. Justru tren ini ngerayain barang-barang yang udah lo punya. Bantal kesayangan yang udah penyok? Itu aset. Buku yang berantakan di meja? Itu karya seni .

Artikel ini gue tulis buat lo, pemilik rumah pertama usia 25-35 tahun, yang mungkin masih bingung gimana bikin rumah terasa milik lo sendiri. Bukan rumah kayak di katalog.

Gue akan bongkar 5 tren interior paling hits Juni 2026: BurrowcoreBookshelf WealthEccentric Aunt AestheticTropical Modern, dan Earthy & Warm Tones .

Dan gue kasih tau gimana wujudinnya dari barang yang udah ada di rumah lo.

Siap? Gas.

Sebelum Lo Mulai: Filosofi di Balik Tren 2026

Tren interior 2026 nggak muncul dari ruang hampa. Ini reaksi terhadap apa yang terjadi sebelumnya .

Dulu, cottagecore berkuasa—rumah idilis dengan linen putih, bunga segar, dapur kinclong. Setiap sudut terlihat kayak nggak pernah ada yang nge-teh. Estetik, tapi nggak realistis .

Tahun lalu, minimalism masih dominan—semua serba putih, abu-abu, beige. Rumah kayak galeri seni: indah dilihat, tapi nggak nyaman buat ditinggali .

2026? Saatnya keaslian.

Therapist sekaligus kreator tren Colette Hallows menjelaskan kenapa burrowcore dan tren sejenisnya meledak: “These highly styled aesthetics demand time, money and a level of upkeep that is often unrealistic. Burrowcore shifts the focus towards mental ease, embracing authenticity and the quiet rhythms of everyday life” .

Artinya? Hidup udah cukup berat. Rumah lo nggak perlu jadi sumber stres tambahan.

Desainer Stacey Shively (Michaels) setuju: “People are craving spaces that are comforting and expressive rather than perfectly styled for social media” .

Jadi, tren ini bukan soal “gaya”. Ini soal kesehatan mental. Rumah adalah tempat lo bisa jadi lo—tanpa perlu tampil sempurna.

Sekarang, gue kasih 5 trennya.

1. Burrowcore: Rumah Kayak ‘Sarang’ yang Nyaman Banget

Bayangkan rumah kayak di cerita anak-anak. Tikar empuk. Selimut tebal. Buku berantakan di samping ranjang. Cahaya lampu hangat. Cangkir keramik yang nggak match. Rasanya kayak bersembunyi dari dunia .

Itu burrowcore. Nama ini terinspirasi dari rumah para hewan di buku cerita—sarang yang hangat, nyaman, dan aman .

Mengapa tren ini viral? Setelah pandemi dan tekanan media sosial, Gen Z dan milenial lelah perform. Mereka nggak butuh rumah yang keliatan bagus di Instagram. Mereka butuh tempat buat recharge .

Bagaimana wujudnya tanpa beli barang baru?

  • Kursi nggak harus match-matching. Di burrowcore, ketidaksengajaan justru jadi ciri khas. Satu kursi dari warisan nenek, satu kursi bekas marketplace, satu sofa lama—disatukan, mereka punya cerita .
  • Bantal dan selimut dilapis (layering). Bantal dari bahan beda (katun, bulu domba, rajutan) ditumpuk di sofa. Ujungnya? Nggak perlu rapi. Selimut dibiarin “jatuh”, bukan dilipat sempurna .
  • Lampu redup dan hangat. Matikan lampu putih terang. Gunakan lampu meja, lampu lantai, atau lampu gantung dengan bohlam kuning hangat .
  • Hidupin satu sudut “bersarang”. Kursi malas dekat jendela + selimut + meja kecil buat kopi + beberapa buku. Itu burrow corner lo. Nggak perlu besar. Asal nyaman .

Common mistake: Lo kira burrowcore itu “berantakan”. Nggak. Ini tentang functional mess—barang berantakan karena dipakai, bukan karena malas bersihin . Cangkir kopi bekas di meja karena lo baru aja ngopi? Itu burrowcore. Cangkir bekas 3 hari karena lo malas cuci? Itu kotor, beda.

Data: Vogue menulis bahwa burrowcore adalah “messy, honest sister of cottagecore yang decided to drop the filter” . Ini soal kejujuran visual, bukan kemalasan.

2. Bookshelf Wealth: Rak Buku yang ‘Kaya Cerita’

Dulu, rak buku harus rapi—buku diatur berdasarkan warna, tinggi, atau abjad. 2026? Sebaliknya. Bookshelf Wealth adalah tren di mana rak buku justru keliatan kaya karena isinya beragam, berantakan dikit, dan penuh dengan barang-barang personal .

Apa itu bookshelf wealth? Istilah ini diciptakan oleh desainer LA Kailee Blalock di 2023. Idenya: rak buku bukan display, tapi arsip kehidupan lo. Buku-buku yang lo baca (bukan cuma pajangan), plus benda-benda kecil yang lo kumpulin selama bertahun-tahun .

Mengapa tren ini hits? Karena ini adalah anti-tesis dari “quiet luxury”. Bookshelf wealth berisik. Rak buku penuh buku teriak: “Aku orang yang baca. Aku punya selera. Aku punya sejarah” .

Bagaimana wujudnya dari buku dan barang yang lo punya?

  • Jangan sortir buku berdasarkan warna. Itu ciri khas Instagram, bukan orang yang beneran baca. Campur hardcover, paperback, buku teks lama, komik, novel. Semua berdampingan .
  • Susun horizontal dan vertikal. Buku berdiri. Buku tidur ditumpuk. Ini ngasih “ritme visual” yang lebih alami .
  • Selipkan barang personal di antara buku. Frame foto kecil (boleh miring), oleh-oleh dari traveling, tiket konser, cangkir keramik, lilin. Rak buku bukan cuma tempat buku, tapi museum mini lo .
  • Jangan beli buku hanya buat estetika. Desainer bilang, “A wall of identical leather-bound classics from a discount website fools nobody” .

Data: Menurut House & Garden, tren ini menjadi “the dominant aesthetic for living rooms in 2026” . Rak buku sekarang dilihat sebagai status symbol yang lebih jujur daripada tas mewah.

3. Eccentric Aunt Aesthetic: Rumah Berani, Kayak Milik Tante yang Keren

Lo pasti kenal tante yang rumahnya beda. Ada koleksi teko antik, bantal bermotif macan, kursi velvet merah, dan pajangan unik dari mana-mana. Awalnya lo pikir “aneh”. Tapi lama-lama lo sadar: rumah itu berkarakter .

Itulah Eccentric Aunt Aesthetic.

Tren ini adalah versi lebih liar dari “grandmillennial” (gaya nenek-nenek) yang sebelumnya populer. Kalau grandmillennial masih rapi, eccentric aunt sengaja kacau dan berani .

Mengapa tren ini relevan buat lo? Karena lo nggak perlu rumah kayak orang lain. Rumah bisa jadi cerminan kepribadian lo yang unik—bahkan yang “aneh” sekalipun.

Bagaimana wujudnya tanpa beli barang mahal?

  • Mulai dari satu rak atau satu sudut. Nggak perlu ubah seluruh rumah. Coba display koleksi teko, mug, atau action figure lo di satu rak. Biarkan nggak rapi .
  • Campur motif yang nggak biasa. Bunga-bungaan ketemu garis-garis ketemu polkadot. Di tren ini, tabrakan motif justru dirayakan. Mulai dari bantal sofa atau sarung kursi .
  • Koleksi barang unik dari mana aja. Flea market, toko loak, warisan keluarga, oleh-oleh traveling. “It doesn’t matter what era or style it’s from. If it speaks to you, it’s in” , kata desainer Whitney Anderson .
  • Manfaatin DIY (Do It Yourself). Karena tren ini ngerayakan “ketidaksempurnaan”, lo bisa bikin sendiri hiasan dinding, pigura, atau vas bunga dari barang bekas. Serius, “the slightly imperfect, one-of-a-kind quality is really what the eccentric aunt aesthetic is all about” .

Common mistake: Lo pikir ini soal “numpuk barang banyak”. Nggak. Ini soal kurasi. Tante keren punya koleksi yang berantakan tapi tetap enak dipandang karena dia sengaja milih barang-barang yang dia suka. Bukan asal numpuk.

4. Tropical Modern: Rumah Tropis yang Keren Kayak Villa

Nah, ini tren yang paling cocok dengan iklim Indonesia. Tropical Modern adalah perpaduan antara gaya modern minimalis dengan elemen-elemen tropis: tanaman indoor, cahaya alami, material kayu, dan warna-warna hangat bumi .

Tren ini sebenarnya nggak baru di dunia. Tapi di 2026, versi “modern”-nya lagi naik daun. Bukan lagi tropis yang “alang-alang dan nyamuk”, tapi tropis yang cleanpremium, dan aesthetic .

Mengapa tren ini viral di Indonesia? Karena banyak rumah modern di Indonesia terasa dingin dan kurang hidup. Warna abu-abu dominan, pencahayaan putih terang, layout kaku. Padahal, kita tinggal di negara tropis—kenapa rumah kita nggak menangkap esensi itu? 

Bagaimana wujudnya dengan tanaman dan barang yang lo punya?

  • Maksimalin cahaya alami. Buka tirai lebar-lebar di siang hari. Biarkan sinar matahari masuk. Natural sunlight bikin rumah hidup .
  • Bawa tanaman indoor—tapi jangan asal taruh. Pilih 2-3 tanaman besar (monstera, lidah mertua, palem). Taruh di sudut ruangan atau dekat jendela. Jangan sampai terlalu banyak sampai rumah jadi kayak hutan .
  • Pilih warna-warna bumi. Terracotta, sage green, beige hangat, coklat kayu. Warna-warna ini bikin rumah terasa grounded dan nyaman .
  • Pakai material alami yang lo punya. Karpet anyaman, keranjang rotan, meja kayu. Kalau belum punya, beli perlahan. Prioritasin barang yang fungsional dulu.
  • Ganti pencahayaan malam. Hidden LED warm lighting atau lampu gantung dengan shade rotan. Hindari lampu putih terang di malam hari .

Data: Di media sosial, rumah tropical modern sering viral karena tampilannya yang cinematic—terasa kayak resort luxury, tapi tetap nyaman buat aktivitas sehari-hari .

5. Earthy & Warm Tones: Warna-warna yang Bikin Rumah ‘Nempel’

Ini sebenarnya bukan “gaya” baru, tapi palet yang mendasari semua tren di atas. Setelah bertahun-tahun didominasi abu-abu dingin dan putih steril, 2026 adalah tahunnya warna-warna bumi—terracotta, sage green, ochre, rust, warm beige, coklat kayu .

Mengapa ini penting? Karena warna punya efek psikologis. Warna-warna dingin (putih, abu-abu, biru tua) bikin ruangan terasa steril dan kadang dingin. Sementara warna-warna hangat bikin ruangan terasa nyaman dan mengundang .

Bagaimana wujudnya tanpa beli furnitur baru?

  • Ganti satu dinding dengan warna aksen. Pilih terracotta atau sage green untuk satu dinding di ruang tamu atau kamar tidur. Ini perubahan paling dramatis dengan biaya paling murah .
  • Ganti sarung bantal dan karpet. Warna-warna hangat bisa lo datangkan lewat aksesoris. Bantal sofa warna rust, karpet warna krem hangat, gorden warna sage .
  • Manfaatin barang kayu yang lo punya. Meja kayu, lemari jati, rak kayu—semua ini punya warmth yang nggak bisa ditiru plastik atau logam. Jangan dicat putih. Biarkan warna aslinya .
  • Tambahkan tekstur. Bantal rajutan, selimut bulu domba, karpet shaggy. Warna hangat plus tekstur lembut = resep ruangan yang super nyaman .

Common mistake: Lo pikir warna hangat itu artinya “semua jadi coklat”. Nggak. Variasikan. Terracotta untuk aksen, sage green untuk keseimbangan, beige untuk dasar .

Tabel Perbandingan 5 Tren: Mana yang Paling Cocok Buat Lo?

TrenInti FilosofiModal MinimalCocok untuk yang…
BurrowcoreRumah adalah sarang, bukan showroomRelawan berantakanSuka rebahan, baca buku, dan nggak peduli sama “standar”
Bookshelf WealthRak buku adalah arsip kehidupan loPunya koleksi buku atau barang personalPunya banyak barang “acak” yang pengen dipamerin
Eccentric AuntRumah berani kayak tante paling kerenBarang unik dari traveling atau warisanSuka hal-hal aneh dan nggak takut beda
Tropical ModernRumah tropis yang keren kayak villaTanaman indoor + sinar matahariTinggal di daerah panas dan pengen rumah kerasa sejuk tanpa AC
Earthy TonesWarna hangat yang bikin nyamanCat tembok atau aksesoris warna bumiPunya rumah yang sekarang “kebanyakan putih dan abu-abu”

Tabel Aplikasi Cepat per Ruangan

RuanganTren Paling Cocok3 Hal Bisa Lo Lakukan Hari Ini (Gratis/Rp0)
Ruang TamuBurrowcore + Bookshelf Wealth1. Ambil semua bantal dan selimut, tumpuk di sofa. 2. Ambil 5 buku favorit lo, taruh di meja kopi. 3. Matikan lampu utama, nyalakan lampu meja.
Rak BukuBookshelf Wealth1. Campur posisi buku (vertikal & horizontal). 2. Selipkan 1 frame foto di antara buku. 3. Taruh 1 oleh-oleh traveling di ujung rak.
Sudut KosongBurrowcore (burrow corner)1. Pindahkan kursi malas ke dekat jendela. 2. Taruh selimut di atasnya. 3. Letakkan 1 buku dan 1 cangkir di sampingnya.
DindingEarthy Tones1. Pilih 1 dinding yang paling terlihat. 2. Beli cat warna terracotta atau sage (Rp 50-100rb). 3. Cat sendiri di weekend.
Balkon/TerasTropical Modern1. Pindahkan 1 tanaman indoor ke luar. 2. Buka tirai lebar-lebar. 3. Kalau ada kursi, pindahkan ke dekat jendela.

Common Mistakes yang Sering Dilakukan (Gue Juga Pernah)

1. Terlalu Cepat Membeli Barang Baru

Lo baca tren ini. Lo excited. Langsung buka e-commerce dan beli bantal motif macan, rak baru, tanaman mahal. Budget jebol.

Padahal, tren ini justru ngerayakan barang yang udah lo punya. Sebelum beli apa pun, eksplorasi dulu rumah lo. Ada selimut lama yang masih bagus? Ada koleksi buku yang teronggok? Ada keranjang rotan pemberian ibu? Itu modal utama.

Solusi: Setiap kali mau beli barang baru, tanya: “Apa ini menggantikan fungsi barang yang udah ada? Atau cuma nambah-nambah?”

2. Meniru Persis Kayak di Pinterest/Instagram

Lo liat foto ruangan aesthetic. Lo copy persis. Hasilnya? Rumah lo jadi kayak milik orang lain.

Padahal, kekuatan tren ini justru di personalization. Rak buku lo harusnya beda dengan rak buku gue, karena isinya beda. Bantal lo harusnya beda, karena selera lo beda.

Solusi: Gunakan tren sebagai inspirasi, bukan template. Jangan takut ngelanggar “aturan”. Nggak ada polisi interior yang bakal nangkap lo.

3. Lupa dengan Fungsi

Lo terlalu fokus bikin rumah aesthetic, tapi lupa fungsi. Rak buku diatur rapi, tapi lo jadi malas ambil buku karena takut berantakan. Bantal ditumpuk cantik, tapi jadi nggak ada tempat duduk.

Ini ironi. Tren burrowcore dan bookshelf wealth lahir dari keinginan bikin rumah nyaman, tapi kalau lo over-styling, rumah malah jadi nggak nyaman.

Solusi: Setiap kali lo “menata” sesuatu, tanya: “Apakah ini membuat rumah lebih mudah dipakai atau lebih susah?”

4. Melupakan Pencahayaan

Lo udah cat dinding warna terracotta. Udah tumpuk bantal. Tapi lampu masih putih terang. Hasilnya? Suasana ruangan jadi janggal—warna hangat tapi cahaya dingin.

Pencahayaan adalah 50% dari mood ruangan. Jangan abaikan .

Solusi: Ganti bohlam dengan yang warm white (2700K-3000K). Harga cuma Rp20-50rb. Dampaknya besar.

5. Terlalu Kaku Sama “Aturan”

“Burrowcore harus begini.” “Bookshelf wealth harus begitu.”

Nggak. Tren itu cuma panduan. Rumah lo, aturan lo.

Solusi: Ambil elemen yang lo suka dari tiap tren. Campur. Kalau lo suka tanaman (tropical modern) tapi juga suka suasana sarang (burrowcore), gabungin. Nggak ada yang melarang .

Practical Tips: Actionable Steps yang Bisa Lo Lakukan Hari Ini

Gue kasih urutan dari yang paling mudah dan gratis, sampai yang butuh budget sedikit:

Level 1 (0 Rupiah, 10 menit)

  1. Pindahin furnitur. Kadang cuma dengan menggeser sofa ke dekat jendela, ruangan berubah.
  2. Matikan lampu utama, nyalakan lampu meja/lantai. Rasakan bedanya.
  3. Ambil 3 buku favorit lo. Taruh di meja kopi. Bukan display, tapi beneran buat baca.
  4. Gulung selimut, taruh di sofa. Bukan dilipat rapi, tapi digulung santai.

Level 2 (Budget minim, 1-2 jam)

  1. Beli cat tembok warna terracotta atau sage green (Rp 50-100rb). Cat satu dinding aja.
  2. Ganti sarung bantal. Pilih warna hangat (rust, krem, sage) atau motif berani (macan, bunga besar) .
  3. Beli 1 tanaman hias besar (Rp 50-150rb). Monstera atau lidah mertua. Taruh di sudut ruangan.
  4. Pajang koleksi lo. Frame foto, teko, action figure, apa pun. Keluarkan dari lemari.

Level 3 (Butuh waktu, budget menengah)

  1. Bangun rak buku sederhana (bisa dari kayu palet). Nggak perlu mahal. Yang penting fungsional.
  2. Ganti gorden. Pilih warna hangat atau motif berani.
  3. Belanja di toko loak/flea market. Cari kursi unik, vas antik, lampu lawas. Jangan beli baru dari mall .

Kesimpulan: Rumah Lo Nggak Harus Sempurna, Cukup Hidup

Dari burrowcore yang mengajak lo bersarang nyaman, bookshelf wealth yang ngerayain koleksi buku berantakan lo, eccentric aunt yang berani beda, tropical modern yang nyambung sama iklim Indonesia, hingga earthy tones yang bikin ruangan hangat—semua tren 2026 punya satu kesamaan:

Mereka ngajak lo berhenti jadi “katalog IKEA”.

Rumah bukan tempat pamer. Rumah adalah tempat lo jadi lo. Dengan segala ketidaksempurnaan, kekacauan, dan keanehan yang bikin rumah itu punya cerita.

Colette Hallows, terapis yang pertama kali mendefinisikan burrowcore di media sosial, bilang: “Nothing has to match. If something feels a little out of place, it simply becomes part of the everyday charm. There is no need to constantly put everything back in order, because burrowcore moves away from the idea of perfect neatness and instead tells a story, the story of a life. That is its heart” .

Pertanyaan terakhir buat lo:

Lo mau terus punya rumah yang bagus di foto tapi nggak lo tinggali? Atau lo mau punya rumah yang berantakan dikit, nggak instagramable, tapi bikin lo betah berjam-jam?

Gue tau jawabannya.

Gue sekarang punya sudut baca di dekat jendela. Buku berantakan di lantai. Selimut nggak pernah dilipat. Tapi setiap kali gue duduk di sana, gue bisa lupa waktu. Itu rumah. Bukan katalog.

Lo mulai dari mana hari ini?

Anda mungkin juga suka...